Beranda > Uncategorized > KESELAMATAN PASIEN, TANGGUNGJAWAB SIAPA?

KESELAMATAN PASIEN, TANGGUNGJAWAB SIAPA?

Kasus meninggalnya bayi berusia lima hari yang diduga akibat terpanggang dalam incubator di salah satu rumah sakit di Kota Makassar baru-baru ini membuat masyarakat kita kembali gusar akan rendahnya kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit kita saat ini. Kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan siapa yang salah dan harus bertanggungjawab atas terjadinya insiden tersebut?

Di rumah sakit terdapat ratusan macam obat, ratusan tes dan prosedur, banyak alat dengan teknologinya, bermacam jenis tenaga profesi dan non profesi yang siap memberikan pelayanan pasien 24 jam terus menerus. Keberagaman dan kerumitan pelayanan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan terjadinya Kejadian yang tidak diharapkan (KTD) seperti kematian pasien.

2400 tahun yang lalu Hipocrates telah mengeluarkan fatwa :”Primum, Non Nocere” (First, Do No Harm). Fatwa ini mengamanatkan tentang keselamatan pasien yang harus diutamakan. Dari fatwa ini tersirat bahwa keselamatan pasien bukan hal yang baru dalam dunia pengobatan, karena pada hakekatnya tindakan keselamatan pasien itu sudah menyatu dengan proses pengobatan itu sendiri.

Namun, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran serta makin kompleksnya manajemen Rumah Sakit, unsur keselamatan pasien ini agak terabaikan. Dengan munculnya laporan “To Err is Human” pada tahun 2000, dunia dikagetkan dengan kenyataan bahwa demikian banyaknya kasus-kasus Kejadian Tidak Diharapkan yang terjadi di Rumah Sakit.

Laporan itu mengemukakan penelitian di rumah sakit di Utah dan Colorado serta New York. Di Utah dan Colorado ditemukan KTD (Adverse Event) sebesar 2,9 %, dimana 6,6 % diantaranya meninggal. Sedangkan di New York KTD adalah sebesar 3,7 % dengan angka kematian 13,6 %. Angka kematian akibat KTD pada pasien rawat inap di seluruh Amerika yang berjumlah 33,6 juta per tahun berkisar 44.000 – 98.000 per tahun. Publikasi WHO pada tahun 2004, mengumpulkan angka angka penelitian rumah sakit di berbagai Negara : Amerika, Inggris, Denmark, dan Australia, ditemukan KTD dengan rentang 3,2 – 16,6 %.

Dengan data-data tersebut, berbagai negara segera melakukan penelitian dan mengembangkan Sistem Keselamatan Pasien. Di Indonesia data tentang KTD apalagi Kejadian Nyaris Cedera (Near miss) masih langka, namun dilain pihak terjadi peningkatan tuduhan “mal praktek”, yang belum tentu sesuai dengan pembuktian akhir.

Keselamatan pasien rumah sakit sebenarnya telah diatur oleh Kementerian Kesehatan. Keselamatan pasien rumah sakit menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.1691 tahun 2011 adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Insiden keselamatan pasien adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien, terdiri dari Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Cedera dan Kejadian Potensial Cedera serta disebut Kejadian Sentinel jika kejadian tidak diharapkan tersebut mengakibatkan kematian atau cedera serius seperti pada kasus bayi yang diduga meninggal karena terpanggang di dalam incubator RS.

Dalam insiden keselamatan pasien hampir tidak pernah ditemukan penyebab tunggal, seandainya ada factor manusia lebih sering hal ini disebabkan oleh sistem yang memungkinkan pelaku berbuat kesalahan. Dalam buku to err is human juga disebutkan bahwa untuk berbuat salah, melakukan tindakan ceroboh, lupa ataupun tidak berhati-hati adalah merupakan sifat dasar manusia. Oleh karena sifat tersebut maka manusia dalam bekerja perlu ditunjang dengan sistem dan prosedur kerja yang tepat, sarana dan prasarana yang menunjang serta sistem pengawasan yang baik.

Regulasi komite keselamatan pasien rumah sakit di Indonesia mengamanatkan penyeledikan segera dalam waktu 24 jam apabila ada kejadian sentinel yang dipimpin langsung oleh pimpinan rumah sakit dengan menggunakan metode Root Cause Analysis (RCA).

Secara singkat RCA dapat didefenisikan sebagai metode evaluasi terukur untuk mengidentifikasi akar masalah suatu insiden. Pada tahapan analisis informasi dalam RCA dipake “why method” dimana sebagai contoh pada kasus pasien cedera dilemparkan sebuah pertanyaan sederhana berturut-turut seperti mengapa pasien cedera? Karena jatuh; mengapa pasien jatuh? Karena pelindung sisi tempat tidur tidak dipasang; mengapa pelindung sisi tidak dipasang? Perawat tidak tahu bahwa harus dipasang; mengapa perawat tidak tahu? Karena tidak dilatih; mengapa tidak dilatih? Karena RS belum punya program, dan seterusnya. Dengan metode ini diharapkan dapat diketahui akar masalah yang terjadi untuk dicarikan solusinya agar tidak terjadi lagi dimasa mendatang.

Tetapi dalam kenyataannya masalah insiden keselamatan dalam pelayanan kesehatan khususnya di rumah sakit merupakan sebuah fenomena gunung es dimana yang ditemukan hanya kejadian yang kebetulan saja ditemukan atau terekspose oleh media, sebagian besar insiden tersebut tidak terlaporkan, tidak dicatat atau luput dari perhatian kita semua. Kebanyakan kasus menjadi tidak terlaporkan karena ketakutan seseorang untuk melaporkan kejadian yang terjadi. Padahal dengan jalannya metode pelaporan yang baik diharapkan sebelum kejadian-kejadian fatal terjadi hal tersebut telah dapat diantisipasi sebelumnya dengan membuat program-program keselamatan pasien di rumah sakit.

Budaya keselamatan pasien di rumah sakit harus ditumbuhkan oleh pihak manajemen rumah sakit. Mekanisme pelaporan insiden keselamatan pasien perlu dikembangkan dengan mengembangkan “no blame culture”. Dengan adanya budaya tidak menyalahkan diharapkan para tenaga kesehatan dapat lebih berperan aktif untuk melaporkan insiden keselamatan pasien yang terjadi di rumah sakit sehingga pihak rumah sakit dapat belajar dari kejadian tidak diharapkan tersebut kemudian dapat membuat tindakan untuk mencegah kejadian-kejadian tersebut terulang lagi di masa depan atau mencegah insiden terebut berkembang menjadi kejadian sentinel yang dapat menyebabkan cedera serius atau kematian pasien.

Semoga kita semua bisa belajar dari kejadian-kejadian yang telah terjadi dimasa lalu, merumuskan perbaikan bersama, melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi secara terus menerus sambil berdoa agar kejadian-kejadian tersebut tidak terjadi lagi di masa mendatang. Ada pepatah yang berbunyi bahwa hanya seekor keledai yang jatuh kelubang yang sama dua kali, jangan sampai kita semua menjadi lebih “bodoh” dari keledai karena sering terjatuh dilubang yang sama berkali-kali, semoga tidak. Aamiin.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: