Beranda > Opini > Harga minyak dunia, Kemacetan dan Kesehatan Masyarakat

Harga minyak dunia, Kemacetan dan Kesehatan Masyarakat

Akhir-akhir ini diberbagai media massa selain berita-berita gosip para artis yang lagi pada sibuk mempertontonkan hobby mereka tuk kawin, cerai atau rujuk, media massa kita juga lagi diramaikan tentang berita naiknya harga minyak dunia yang selama sejarahnya kemarin berhasil menembus harga USD 100 dollar perbarel. Demikian juga dengan berita-berita kemacetan di kota-kota besar yang menjadi pemandangan sehari-hari bagi masyarakat di kota tersebut. Terus bagaimana dengan berita-berita kesehatan masyakat di Negara ini? Tidak banyak yang berubah saya kira, masih di dominasi oleh masalah-masalah kesehatan kemarin yang tak kunjung usai, sebut saja masalah DBD, Flu Burung dan Pasien Miskin yang tak sangup menjangkau pelayanan kesehatan serta lain sebagainya.

Harga minyak dunia, kemacetan dan kesehatan masyarakat, minus berita gossip para artis, dimana hubungannya??

Kalau dilihat sekilas tentu akan sangat kelihatan” benang merah” di anatara ketiga hal tersebut. Sebut saja tingginya harga minyak dunia akan diikuti kenaikan harga-harga barang yang lain sehingga daya beli masyarakat akan semakin rendah terutama masyarakat miskin dan berpengaruh terhadap kemampuan mereka menjangkau pelayanan kesehatan. Bagaimana dengan kemacetan dan kesehatan?

Kita semua juga mengetahui bahwa kemacetan yang timbul di kota-kota besar telah mengubah senyum-senyum warga kota besar. Tingkat stress masyarakat semakin meningkat, akibat kebiasaan menggerutu dalam hati akibat kendaraan mereka yang tak kunjung dapat melaju lancar di jalan raya. Demikian juga polusi yang ditimbulkan oleh kemacetan lalu lintas yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pernafasan bagi masyarakat serta bagi generasi penerus bangsa ini yang menghirup timbal asap kendaraan bermotor akan menyebabkan kerusakan otak dan ujung-ujungnya kita akan tahu bagaimana kualitas penerus bangsa besar ini.

Tetapi pernahkah anda melihat “benang merah jambu” diantara ketiga hal tersebut?? Harga minyak dunia, kemacetan dan kesehatan masyarakat.

Bila kita sedikit merenung, kita mungkin akan menemukan sedikit hal yang unik yang cukup mengagetkan kita semua. Kemacetan lalu lintas ternyata menjadi sumber pemborosan anggaran Negara kita ini. Bayangkan saja kalau ada sejuta mobil dalam sehari yang terjebak macet rata-rata 1 jam dalam sehari dimana setiap jam kendaraan memboroskan 3 liter BBM dalam sejam kemacetan tersebut, kalikan saja dengan subsidi pemerintah terhadap harga BBM yaitu Rp.4.000 perliternya. Maka anda mungkin akan terperangah bahwa pemborosan yang kita lakukan adalah senilai lebih dari Rp.100 Milyar,wahh angka yang sangat fantastis..

Menurut Wapres Yusuf Kalla akibat membiayai subsidi BBM yang nilainya melonjak menjadi Rp.200 Triliun bila harga minyak international melonjak di atas USD 100 per barel, kata dia Negara harus mengurangi alokasi anggaran pendidikan dan kesehatan. “askeskin tidak dibayar” darimana mau dibayar kalau seperempat anggaran pemerintah justru dibakar dijalan.

Hal ini memang dirasa cukup memilukan bagi kita orang-orang kesehatan. Bidang kesehatan yang seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah ini selalu mendapat dampak yang sebenarnya bukan salah atau karena ketidak becusan orang-orang kesehatan dalam menjaga kesehatan masyarakat kita.

Dalam ilmu system, kesehatan di ibaratkan sebagai outcome atau dampak. Sebut saja begini, bila terjadi kemiskinan yang merupakan bidang ekonomi maka yang menjadi dampaknya adalah kesehatan masyarakat yang rendah dan ujung-ujungnya adalah orang-orang yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat yang disalahkan mengapa bisa banyak masyarakat kita yang sakit atau meninggal karena tidak dapat menjangkau pelayanan kesehatan. Demikian juga dengan ketidaktersediaan pangan, ujungnya adalah kasus gizi buruk. Dan yang paling isu hangat saat ini adalah kemacetan dan harga minyak dunia menyebabkan efek terhadap pemotongan anggaran bidang kesehatan.

Disinilah pentingnya kemampuan advokasi kita orang-orang yang bergelut dibidang kesehatan. Sudah saatnya kita bekerja tidak lagi terkotak-kotak seperti dahulu. Permasalahan kesehatan adalah masalah kompleks yang melibatkan berbagai pihak terkait yang harus bekerjasama untuk menanganinya. Pertanyaannya adalah mampukah kita orang-orang kesehatan melakukannya??

Wallahu Alam..

 

Oleh : Irwandy

Mahasiswa Magister Administrasi RS FKM UNHAS

  1. salmanparisi
    Februari 26, 2008 pukul 8:33 am

    Salam kenal juga. Wow ilmu baru neeeh. Ikut nimbrung aaah.

  2. nan
    Juni 22, 2008 pukul 9:18 am

    klo bicara tentang kesehatan, ibaratnya pada sebuah rumah, dari aspectus anteroposterior kesehatan adalah pintu depan, dari aspectus superoinferior kesehatan itu adalah atap, yang paling sering dilihat atau dinilai, yang paling awal untuk dicerca juga. mengapa? sebab itulah yang paling jelas terlihat. Kesehatan yang merupakan “hasil” dari suatu sistem yang kronis telah sekian lama rusak. sebab pondasinya memang jeblok, bahan2 material pembuat dindingnya rapuh, akhirnya yang ada adalah bangunan yang tidak kokoh, rentan diterpa goncangan. mengapa tidak diawali dari pondasinya? mengapa bahan2 bangunannya tidak pakai yang kualitasnya prima? sebab moral dan itikad dari orang yang berkecimpung dalam ‘pengadaan’nya tidak prima, unexcellent. agar bisa tahan banting, pondasinya harus stabil, dan itu artinya kestabilan ekonomi, politik dan hukum. jika hanya kesehatan saja yang jadi ukuran, mau berkeringat habis2an pun tak akan mempan….

  3. Agustus 11, 2009 pukul 5:15 pm

    betul, bagaimanapun juga
    kesehatan akan kena dampak dgn masalah ke-makmur-an… 🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: