Beranda > Opini > Gizi Buruk dan Kepedulian Politik Pemda

Gizi Buruk dan Kepedulian Politik Pemda

Berdasarkan kriteria organisasi kesehatan dunia (WHO), kasus kurang gizi dan gizi buruk di Indonesia tergolong tinggi. Keadaan itu berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi menyebabkan penurunan produktivitas antara 20 sampai 30 persen. Anak yang kekurangan gizi akan bertubuh pendek, mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak. Akibatnya, tingkat kecerdasan rendah.
Yang memprihatinkan, kasus kurang gizi dan gizi buruk cenderung meningkat dari tahun ketahun. Masalah ini jelas disebabkan oleh berbagai faktor yang pada akhirnya mengerucut sehingga si anak tidak mendapat asupan gizi yang cukup selama kurun waktu yang lama. Mungkin karena ketiadaan pangan di rumah tangga, yang apabila dikaji penyebabnya akan sangat banyak dan tidak berkaitan dengan sektor kesehatan. Atau mungkin karena kelalaian orangtua dalam pengasuhan bayi dan anak balita, sehingga asupan gizi untuk anak tidak terawasi dengan baik, sehingga timbul masalah gizi buruk.
Khusus mengenai hubungan kasus gizi buruk dan ketersediaan pangan di suatu daerah, pagi ini penulis sekedar iseng membaca-baca sebuah surat kabar online di Provinsi Sulawesi Selatan. pada sebuah Artikel di buat pernyataan yang bagi penulis dianggap cukup menggelikan. Kabupaten Sidrap sebagai salah satu lumbung penghasil pangan di Provinsi Sulawesi Selatan melalu Bupatinya menyatakan bahwa :
“Alhamdulillah. Selama kepemimpinan saya, sektor pertanian memang menjadi prioritas utama. Bukan sekadar menjalankan program, tapi bagaimana kinerja kita bisa menjadi terobosan. Kalau disebut beras, memang telah membuahkan hasil yang memuaskan. Kita telah mewujudkan swasembada beras dengan produksi sekitar 400 ribu ton per tahun. Jumlah ini meningkat dibanding produksi sebelumnya yang hanya berkisar 300 ribu ton per tahun.”
“Dari produksi beras 400 ribu ton per tahun, kebutuhan masyarakat Sidrap hanya sekitar 100 ton setiap tahunnya. Ini berarti ada sekitar 300 ribu ton yang kita lempar keluar daerah.
Tapi disisi lain pemberitaan yang dimuat dalam Surat Kabar On-Line tersebut dikemukakan sebuah artikel yang menyatakan :
Kasus gizi buruk mengisi catatan kesehatan di Sulsel tahun ini. Gizi buruk ini disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga secara klinis menyebabkan Kwashiorkor, Marasmus, dan Marasmus-Kwashiorkor.
Ironisnya, gizi buruk tidak hanya dijumpai di kantong-kantong miskin, tetapi juga di daerah yang dikenal memiliki pangan cukup. Seperti di Kabupaten Sidrap yang dikenal sebagai lumbung padi di Sulsel. Pada 8 Maret 2006, Leppe, bocah berusia 8 tahun, warga Desa Maderra, Kecamatan Kulo Kabupaten Sidrap diberitakan menderita gizi buruk. Beratnya saat itu hanya 3 kilo
.
Pertanyaan selanjutnya adalah, dimana perlunya kebanggaan yang berlebihan yang dilontarkan oleh seorang kepala daerah bahwa daerah mereka adalah daerah penghasil Pangan tetapi dipihak lain mereka juga adalah daerah penghasil gizi buruk. bayangkan saja daerah yang katanya mereka hanya membutuhkan pengan sekitar 100 ton setiap tahunnya dengan produksi 400 ton sehingga 300 ton pangan mereka “terpaksa” di jual keluar daerah. tetapi ternyata masih banyak masyarakat yang di daerah tersebut yang hanya mendapatkan pangan di mata tetapi tidak sampai di lambung..sebuah ironi.
Memang disadari kasus gizi buruk dan kekurangan gizi penyebabnya adalah multi causa, oleh karena itu perlulah di ingat bahwa peran serta dari berbagai pihak sangat di butuhkan untuk penangulangan gizi buruk tersebut. kemiskinan merupakan salah satu penyebab kejadian gizi buruk tersebut. Data dari Indonesia dan di negara lain menunjukkan adanya hubungan antara kurang gizi dan kemiskinan. Proporsi anak yang gizi kurang dan gizi buruk berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentase anak yang kekurangan gizi; makin tinggi pendapatan, makin kecil persentasenya.
Hubungannya bersifat timbal balik. Kurang gizi berpotensi sebagai penyebab kemiskinan melalui rendahnya pendidikan dan produktivitas. Sebaliknya, kemiskinan menyebabkan anak tidak mendapat makanan bergizi yang cukup sehingga kurang gizi dan seterusnya.
Diharapkan kedepannya para pemimpin di daearah ini agar lebih memperhatikan masyarakat didaerahnya. terutama soal kemiskinan, karena kemiskinan adalah akar berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat. semoga suatu saat akan ada seorang pemimpin di suatu daerah yang berkata dengan bangga bahwa saya sudah berhasil memenuhi kebutuhan dasar masyarakat saya terutama soal pangan, sehingga tidak ada lagi masyarakat saya yang kelaparan dan menderita gizi buruk. semoga..
atau generasi penerus bangsa ini akan seperti gambar yang berhasil di abadikan oleh metronews.com berikut ini :
Gizi Buruk Gizi Buruk
Oleh : Irwandy, Mahasiswa MARS FKM UNHAS..
  1. Februari 18, 2008 pukul 1:09 pm

    Gizi buruk❓ Ini sudah menjadi berita basi bagi pemda yang tak mau peduli❗

  1. Mei 31, 2008 pukul 5:04 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: