Beranda > Opini > Hari AIDS Sedunia, Mengapa Penting?

Hari AIDS Sedunia, Mengapa Penting?

Oleh :

Irwandy

Mahasiswa Magister Administrasi Rumah Sakit

Program Pasacasarjana Universitas Hasanuddin

Email : wandypoenya@gmail.com


Lihatlah kalender anda!! Dalam setahun, pasti kita akan menemukan beberapa hari khusus yang diperuntukkan bagi hal-hal bersejarah. Misalnya saja, setiap tanggal 17 Agustus kita memperingati hari kemerdekaan Indonesia , termasuk para pahlawan yang telah gugur untuk memperjuangkan kemerdekaan kita. Atau tanggal 28 November yang diperingati sebagai hari pahlawan dan 12 November sebagai hari kesehatan . Akan tetapi, kemudian muncul Hari AIDS sedunia yang kita peringati setiap tanggal 1 Desember. Untuk apakah AIDS sedunia ini? Apa yang ingin diperingati? Mengapa menjadi penting?

AIDS adalah kumpulan gejala-gejala penyakit atau Sidrom yang disebabkan oleh Virus HIV yang menyerang kekebalan tubuh sang penderitanya. Begitu ganasnya AIDS ini hingga Badan Kesehatan Dunia/WHO merasa perlu menetapkan 1 hari dalam setiap tahunnya sebagai hari AIDS sedunia. Awal pertama kali ditemukan virus HIV ini pada sebuah Negara kecil di Benua Afrika dan hingga pada saat ini kita dapat menemukan di seluruh dunia para penderita HIV/AIDS sehingga WHO telah menetapkannya sebagai bahaya Pandemi atau “mendunia”. AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia pada bulan Mei 1987 di pulau Dewata Bali pada seorang wisatawan asing yang kini telah meninggal dunia. Kasus penularan HIV/AIDS ini paling sering melalui hubungan seks bebas serta penggunaan jarum suntik pada pengguna NARKOBA. Hingga saat ini jumlah penderita HIV/AIDS di dunia maupun di Indonesia sendiri sangat sulit dipastikan, sebab jumlah penderita yang timbul dipermukaan diperkirakan jauh lebih sedikit dari yang tidak terekspose (Fenomena gunung Es). Hingga tahun 2006, jumlah penderita HIV dan AIDS di Indonesia tercatat sekitar 11.165 orang dan angka itu diyakini masih jauh dari jumlah yang sebenarnya. Berdasarkan estimasi Depkes pada tahun 2002, terdapat sekitar 90.000 sampai 130.000 orang Indonesia yang telah tertular virus HIV yang penularnya dalam empat tahun terakhir ini banyak melalui narkoba suntik dan sek bebas. Di Sulsel sendiri diperkirakan hingga tahun 2004 ini sekitar 3.000 orang penderita HIV/AIDS sedangkan yang tercatat di Dinas Kesehatan Sulsel baru sekitar 284 orang dan pada Komisi Pemberantasan AIDS (KPAD) Sulsel baru sebanyak 62 yang positif HIV sejak tahun 1994 di temukan di sulsel sudah sebanyak 26 orang yang meninggal. Data Dari RS Wahidin Sudirohusodo Sendiri memperlihatkan bahwa pada tahun 2004 saja tercatat ada 29 pasien yang dirawat akibat penyakit HIV AIDS tersebut dan meningkat tajam pada tahun 2005 sebanyak 70 pasien.Dari segi kesehatan bahaya penularan HIV/AIDS ini amat sangat meresahkan. Kebanyakan penderita yang tertular akibat Perilaku mereka yang kurang sehat. Hubungan Seks bebas dan jarum suntik NARKOBA menyumbang angka tertinggi pada penularan penyakit ini. Dewasa ini telah terjadi pergeseran media penularan HIV AIDS dari resiko terbesar yang disandang oleh mereka yang melakukan sex bebas kearah para pengguna jarum suntik narkoba. Tahun 2002, sumbangan narkoba suntik (injecting drugs use) pada kasus HIV berkisar antara 30 sampai 34%, tapi sampai Juni tahun 2007 ini laporan Depkes menunjukkan bahwa proporsi ini naik menjadi 54,9%Disinilah peran KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) dan BNN (Badan Narkotika Nasional) perlu makin ditingkatkan. Kinerja kedua lembaga ini diharapkan dapat terus meningkat demi mengurangi jumlah penderita HIV AIDS di bumi pertiwi ini.Dari segi ekonomi dapat dibayangkan banyaknya produktivitas yang hilang dari para penderita HIV/AIDS yang sakit maupun yang telah meninggal dunia. Sebagai contoh seorang penderita AIDS yang meninggal pada umur produktif semisal 45 tahun (angka harapan hidup 65 tahun), years of life lost yang hilang sebanyak 20 tahun. Dan jika ada 100 kasus yang sama YLL sebesar 2.000 tahun atau jika di Rupiahkan (upah minimum regional Rp.700.000/ bulan) kerugian yang timbul sebesar Rp.16,8 Milyar. Sungguh angka yang sangat besar dari segi ekonomi itupun hanya untuk 100 kasus saja.Kebijakan Pemerintah Daerah Makassar pada tahun 2002 yang mewajibkan penggunaan Kondom bagi para penjajah Seks Komersil dianggap masih kurang ampuh untuk dapat mencegah penularan HIV/AIDS tersebut. Dari sebuah penelitian yang dilakukan masih banyak “Transaksi” yang dilakukan oleh para penjajah seks komersil tidak mengunakan Kondom. Pada Awal tahun 2005 kembali keluar sebuah kebijakan tentang VCT (Voluntery Consultating Testing). Dengan melihat epidemi HIV/AIDS di SulSel sudah mencapai tingkat terkonsentrasi pada sub populasi tertentu sehingga kelihatannya masalah HIV/AIDS saat ini bukan hanya masalah medis saja tapi juga sudah menjadi masalah KesMasy (sosial dan ekonomi) yg sangat luas sehingga penanganannya harus berdasarkan pendekatan masyarakat melalui upaya pencegahan primer, sekunder, tertier, salah satu upaya tersebut adalah deteksi dini untuk mengetahui apakah seseorang menderita HIV melalui konseling dan tes sukarela bukan dipaksa atau diwajibkan. Hal ini yang melatar belakangi timbulnya kebijakan mengenai upaya untuk mendeteksi dini melalui pelayanan konseling dan tes secara sukarela (VCT).VCT merupakan pintu masuk (entry point) untuk membantu setiap orang mendapatkan akses kesemua pelayanan baik informasi edukasi terapi atau dukungan psiko sosial. Dengan terbukanya akses, maka kebutuhan akan informasi yang akurat & tepat dpt dicapai, sehingga proses pikir, perasaan & perilaku dpt diarahkan kepada perubahan perilaku yang lebih sehat. Dengan demikian tersedianya tempat pelayanan konseling dan testing yang berkualitas merupakan kebutuhan guna memberikan Pelayanan, baik kepada masyarakat yg berperilaku resiko tinggi maupun masyarakat umumTetapi tentu saja semua kebijakan-kebijakan Pemda tersebut tidak pernah akan bisa mencegah penularan HIV/AIDS. Cara yang paling ekstrim harus berani diambil oleh pengambil kebijakan tertinggi di wilayah ini bahkan dinegara ini yaitu dengan memotong salah satu rantai penularan HIV/AIDS tersebut dengan melarang kegiatan Seks bebas dan pemberantasan Peredaran NARKOBA dengan pengawasan dan penegakan hukum yang lebih ketat lagi. Peran Semua Pihak dalam Upaya penanggulangan HIV AIDS harus terus digalakkan, tidak seperti sekarang ini, dimana semua pihak seperti bekerja sendiri-sendiri. Kita ambil contoh sederhana saja, jika anda berusaha mencari data tentang jumlah kasus HIV AIDS di wilayah ini maka mungkin saja anda akan menemui data yang berbeda antar satu institusi dengan institusi lainnya. Masalah mencocokkan data jumlah kasus saja kita masih kewalahan dan terkesan tidak ada kerjasama. Semoga ini tidak menjadi suatu cerminan tentang jeleknya koordinasi lembaga-lembaga di wilayah ini dalam memberantas penularan HIV AIDS Diharapkan hari peringatan AIDS sedunia ini dapat menjadi suatu “tekad awal” dari pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat termasuk kita untuk mau bersama-sama menyatakan perang terhadap HIV/AIDS demi kelangsungan masa depan generasi dan bangsa ini dan diharapkan bukan hanya sekedar “tekad”.

Kategori:Opini Tag:
  1. andi mulawarman
    Mei 19, 2008 pukul 4:16 am

    ass.kum wandy, ini arman 2000, punya banyak reverensi ttg IDU nda ??… trus di makassar ada nda LSM yang aktif pendampingan IDU ?? kbetulan tesis ku ttg drug user trus kualitatif ku pakai jd butuh responden FGD.. thanks b4…

  2. asepkurnia22
    November 17, 2008 pukul 8:40 am

    ….saya butuh atribut buat mengkampanyekan perang terhadap aids…sebagai media saya punya beberapa armada angkutan umum……….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: