Beranda > Karya Ilmiah > Sulawesi Selatan daerah penghasil pangan dan gizi buruk

Sulawesi Selatan daerah penghasil pangan dan gizi buruk

Irwandy
Mahasiswa Magister Administrasi Rumah Sakit
Program Studi Kesehatan Masyarakat
Universitas Hasanuddin

Pendahuluan
Berbagai penelitian membuktikan lebih dari separuh kematian bayi dan balita disebabkan oleh keadaan gizi yang jelek. Risiko meninggal dari anak yang bergizi buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal. WHO memperkirakan bahwa 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh keadaan gizi anak yang jelek. 1
Mungkinkah terjadi kekurangan gizi, khususnya pada anak di bawah lima tahun (balita), di daerah yang mengalami surplus pangan seperti Sulawesi Selatan? Bila ya, mengapa itu bisa terjadi? Langkah-langkah apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi itu?


Pada tahun 2005, secara nasional kasus busung lapar yang menyerang anak Indonesia rata-rata mencapai angka 8%. Sesuai dengan proyeksi penduduk Indonesia yang disusun BPS, jumlah anak usia 0-4 tahun di Indonesia mencapai 20,87 juta di tahun 2005 ini. Itu berarti ada sekitar 1,67 juta anak balita yang menderita busung lapar. Diperkirakan jumlah anak balita yang terancam kurang gizi terus meningkat. Mengingat ada 5-6 juta bayi lahir di Indonesia dan dari jumlah itu 75%-85% berasal dari keluarga miskin.1
Sulawesi Selatan (Sul-Sel) yang dikenal luas sebagai lumbung pangan nasional ternyata memiliki angka kejadian gizi kurang yang tinggi. Survei Konsumsi Gizi menunjukkan bahwa sejak tahun 1995 sampai tahun 1998 terjadi peningkatan persentase keluarga di Sulsel yang mengalami defisit konsumsi energi dari 39% menjadi 57%). Padahal, pada saat yang sama produksi beras, sumber utama kalori di daerah ini, mengalami surplus 1,4 juta sampai 1,5 juta. 2
Angka kekurangan gizi pada balita di Sulsel juga tinggi. Survei Pemantauan Status Gizi tahun 1999 menemukan 44% balita di daerah ini kekurangan gizi dan 14% mengalami gizi buruk. Kondisi ini sangat ironis karena status daerah lumbung pangan ternyata tidak banyak berperan menanggulangi masalah kekurangan gizi. Kondisi Sulsel bahkan lebih buruk dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain yang hidup dari surplus beras Sulsel, seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, dan Maluku (Departemen Kesehatan, 2001). 2
Masalah gizi dalam konsep sistem “input-outcome”.
Gizi dan masalah gizi selama ini dipahami sebagai hubungan sebab-akibat antara makanan (input) dengan kesehatan (outcome). Pada satu pihak masalah gizi dapat dilihat sebagai masalah input, tetapi juga sebagai outcome. Dalam menyusun kebijakan harus jelas mana yang dipakai sebagai titik tolak apakah input atau outcome. Apabila masalah gizi dianggap sebagai masalah input maka titik tolak identifikasi masalah adalah pangan, makanan (pangan diolah) dan konsumsi. Apabila masalah gizi dilihat sebagai outcome, maka identifikasi masalah dimulai pada pola pertumbuhan dan status gizi anak.3
Kelambanan Indonesia menangani masalah gizi makro dalam bentuk gizi kurang dan gizi buruk menurut pendapat saya ada kaitannya dengan kebijakan program gizi kita yang masih mengedepankan pangan, makanan dan konsumsi sebagai penyebab utama masalah gizi. Kebijakan ini cenderung mengabaikan peran faktor lain sebagi penyebab timbulnya masalah gizi seperti air bersih, kebersihan lingkungan dan pelayanan kesehatan dasar. Akibatnya program gizi lebih sering menjadi program sektoral yang masing-masing berdiri sendiri dengan persepsi berbeda mengenai masalah gizi dan indikatornya. Kebijakan ini dalam makalah ini saya sebut sebagai kebijakan dengan paradigma input.
Salah satu kelemahan paradigma input bagi program perbaikan gizi adalah digunakannya indikator agregatif makro seperti persediaan energi dan protein perkapita. Indikator ini tidak dapat menggambarkan keadaan sesungguhnya diri individu anggota keluarga terutama anak dan wanita. Paradigma ini tidak mengenal indikator pertumbuhan anak dan status gizi yang mengukur “the real thing”.
Sudah saatnya indikator pertumbuhan dan status gizi anak menjadi salah satu indikator kesejahteraan. Untuk itu program gizi memerlukan pendekatan paradigma baru, yang didalam makalah ini saya namakan paradigma outcome. Dengan paradigma ini beberapa hal dibawah ini memerlukan perhatian lebih besar dalam program gizi .
Hasil penelitian Amartya Sen, pemenang Nobel Ekonomi dari India, pada tahun 1998 memang menunjukkan, masalah kelaparan dan kekurangan gizi lebih banyak merupakan masalah ekonomi-politik ketimbang masalah klinis-biologis. Menurut Sen, bencana kelaparan dan kekurangan gizi lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor sosial, politik, dan ketimpangan ekonomi ketimbang karena langkanya persediaan pangan atau karena gagalnya panen. 2


Daerah Penghasil Pangan Bukan Jaminan
Berdasarkan pantauan di lapangan ditemukannya gizi buruk tidak hanya di kantong-kantong kemiskinan. Tetapi juga di berbagai daerah yang justru dikenal sebagai lumbung beras.4
Ketersedian pangan pada tingkat daerah tidak menjamin pada daerah tersebut tidak akan terjadi masalah kekurangan gizi. Pertama, faktor-faktor seperti persediaan makanan di tingkat masyarakat juga harus diperhatikan. Produksi yang tinggi tidak menjamin ketersediaan pangan pada tingkat masyarakat karena masih bergantung pada distribusi dan pemasaran hasil produksi pangan tersebut. Kedua, persediaan makanan di tingkat keluarga. Ketersediaan pangan di tingkat masyarakat tidak menjamin ketersediaan pangan di tingkat keluarga. Masih ada sejumlah faktor yang mempengaruhinya. Pertama, daya beli keluarga yang ditentukan oleh tingkat pendapatan dan harga pangan. Setelah krisis ekonomi melanda Indonesia, harga-harga bahan pangan meningkat berkali-kali. Semakin langkanya lapangan kerja dan banyaknya pemutusan hubungan kerja mengakibatkan daya beli keluarga makin melemah.


Pengaruh Budayah dengan Pola Asuh Yang Diberikan
Moelek (2000) menyatakan bahwa pola pengasuhan mempunyai kontribusi sebesar 30% terhadap penentuan status gizi5.Adanya pengaruh ini bisa terjadi karena pola perilaku yang cenderung diikuti para anggota masyarakat dan berbagai kepercayaaan, nilai dan aturan yang diciptakan lingkungan tersebut.
Pola pengasuhan anak adalah bagian dari budaya suatu kelompok dan dipengaruhi kuat oleh budaya tersebut. Dalam budaya ini sang anak bukan hanya diajar untuk membesarkan anaknya tetapi juga pada waktunya mereka nanti mau memelihara anak mereka sendiri.6
Dalam proses pengasuhan, Ibu yang mempunyai peran utama dalam menjalankan tugasnya membutuhkan informasi yang biasanya terkait erat dengan budaya di wilayah setempat. Dari generasi ke generasi berikutnya terjadi pengalihan simbol hinggga terbentuk suatu kebiasaan dan menjadi budaya masyarakat setempat.
Sebagai contoh, sebuah penelitian tentang perilaku pengasuhan yang telah menjadi tradisi masyarakat Desa Lero dalam memberikan pengasuhan. Terdapat 46,9% ibu tidak memberikan kolostrum dalam penelitian ini, jika dibandingkan dengan penelitian lain, 80% bayi baru lahir di Asia tidak lagi menyusu selama 24 jam pertama dan kolostrum dibuang dengan alasan kolostrum merupakan ASI yang basi dan kotor5. Masih banyaknya Ibu yang membuang kolostrumnya di daerah ini karena dengan alasan takut anaknya mengalami “Coecoeyan”(dalam bahasa local) yang berarti akan selalu diikuti setan. Pesan untuk selalu membuang cairan kental berwarna kekuning kuningan sebelum anak disusui adalah informasi yang didapatkan oleh orang tua/kerabat mereka5.
Dari hasil penelitian tersebut dapat kita lihat bahwa ternyata masih terdapat beberapa budaya-budaya yang salah dimasyarakat dan ini tentu saja sangat berperan besar dalam kejadian gizi buruk di suatu daerah.


Dampak Kurang Gizi Terhadap Nilai Ekonomi
Kurang gizi juga mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap nilai ekonomi yang hilang akibat kurang gizi tersebut. Dalam perhitungan nilai ekonomi dan kurang gizi yang dilakukan akhir-akhir ini disimpulkan bahwa akibat prevalensi kurang gizi secara keseluruhari yang masih relatif tinggi, maka bangsa Indonesia pada tahun 2003 kehilangan nilai ekonomi sebesar 22,6 triliun rupiah atau 1,43% dari nilai GDP tahun 2003. 7
Nilai ekonomi tersebut dihitung berdasarkan biaya langsung maupun tidak langsung yang muncul dari 3 masalah gizi utama, yaitu Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKY) memberi kontribusi sebesar 4,5 triliun rupiah, KEP memberi kontribusi sebesar 5,0 triliunrupiah, anemia pada orang dewasa memberi kontribusi sebesar 7,3 triliun rupiah dan anemia pada anak memberi kontribusi sebesar 5,9 triliun rupiah. Apabila prevalensi dan 3 masalah gizi utama di Indonesia konstan sampai dengan 2010 maka diperkirakan bangsa Indonesia akan kehilangan nilai ekonomi yang sangat tinggi mencapai 186,1 triliun rupiah. Sebaliknya apabila 3 masalah gizi utama diIndonesia ditanggulangi dengan menggunakan strategi intervensi yang efektif maka intervensi tersebut dapat mendatangkan nilai ekonomi 55,8 triliun rupiah sampai dengan tahun 2010.7


Penutup
Memperkuat kerja sama lintas sektor (multisector approach) untuk menanggulangi masalah gizi sangat penting dilakukan. Perlu digalakkan pengembangan visi bersama (shared vision) bahwa masalah gizi adalah tanggung jawab semua pihak. Pengembangan lembaga-lembaga pemerintah, perguruan tinggi, lembaga-lembaga masyarakat sipil, sebagai sebuah organisasi pembelajaran (learning organization) akan banyak membantu meningkatkan daya tanggap terhadap penanggulangan masalah gizi, khususnya pada anak balita.

  1. judy rahardjo
    November 28, 2007 pukul 4:51 am

    tulisannya bagus. apa bung punya data atau fakta soal krisis pangan di pesisir atau pulau-pulau kecil di sulsel. sejauh pengamatan saya, sebagaimana kata sen dalam tulisan anda, soal faktor ekonomi politik itu. ok data kemiskinan versi pemerintah sulsel, 70 persen kemiskinan ada di desa, tapi anehnya kata pemerintah sulsel juga, sulsel itu surplus beras. jadi kalau di baca, petani itu menanam padi untuk orang lain, sementara pada saat yang bersamaan petani membiarkan keluarganya mati kelaparan atau dalam kondisi yang miskin. saya agak kuatir pulau-pulau kecil di sulsel itu diseragamkan dengan paradigma politik pulau besar. malah lebih kuatir lagi dengan intervensi NAMA (Non-agriculture Market Access) paska WTO nya Hongkong. ya saya menduga-duga krisis pangan lebih dahsyat di area ini. salam hangat.

  2. Juni 21, 2010 pukul 2:03 am

    Gizi buruk sangat rentan terjadi pada anak balita terutama pada daerah yang termasuk ke dalam wilayah kekurangan pangan dan rentan gizi buruk. Diperlukan adanya intervensi pemerintah untuk mengatasi hal tersebut.

  3. sitemand
    Desember 7, 2010 pukul 12:59 am

    infonya bener2 sippp..tapi kok gak da daftar pustakanya?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: