Beranda > Karya Ilmiah > JURNAL ANALISIS PENEMPATAN DOKTER SPESIALIS DI PROV SULSEL

JURNAL ANALISIS PENEMPATAN DOKTER SPESIALIS DI PROV SULSEL

(Studi Kasus di RSUD Andi Makkasau Pare-Pare, RSUD Pattallassang Takalar dan RSUD Andi Djemma Luwu Utara)

PENDAHULUAN
Dalam hal ketersediaan tenaga dokter spesialis, Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, maupun di negara-negara maju. Rasio dokter spesialis dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia adalah 1 : 23.900. Disamping jumlahnya sedikit, penyebarannya pun tidak merata (Trisnantoro, 2000).
Selama ini penyebaran dokter spesialis di Indonesia sangat tidak merata, bahkan ada beberapa daerah yang sangat minim dokter spesialis. Provinsi yang memiliki dokter spesialis terbanyak adalah DKI Jakarta (24,6 %), kemudian Jawa Timur (13,96 %), Jawa Tengah (12,07 %) dan Jawa Barat (11,38 %). Provinsi yang memiliki dokter spesialis paling sedikit adalah Maluku Utara (0,17 %) (Sumber: Laporan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan, 2002).


Pada saat ini kebijakan yang mengatur tentang penempatan dokter spesialis yang telah selesai masa pendidikannya mengacu pada Kepmenkes 1207.A/MENKES/SK/VIII/2000 tentang pendayagunaan dokter spesialis dan dokter gigi spesialis.
Sejumlah masalah mengenai penempatan dokter spesialis antara lain: Banyak dokter spesialis mengingkari janji untuk bekerja di RSUD dan beberapa lulusan dokter spesialis, walaupun mau ditempatkan di RSUD Kabupaten, tetapi meninggalkan tugas sebelum selesai penugasan. Selain itu banyak lulusan dokter spesialis yang mendapat baiya pendidikan dari pemerintah tetapi tidak mau bekerja kembali pada kabupaten asal dimana mereka bekerja sebelumnya.
Berdasarkan data keadaan dan kekurangan dokter spesialis di Sulawesi Selatan, hanya 6 RSUD yang tidak kekurangan dokter spesialis. Di RSUD Andi Makkasau kota Pare-pare terdapat 14 dokter spesialis, di RSUD Pattallassang Kabupaten Takalar terdapat 11 dokter spesialis dan di RSUD Andi Djemma Kabupaten Luwu Utara terdapat 7 dokter spesialis.

Tujuan Umum
Untuk menganalisis penempatan dokter spesialis berdasarkan lama masa bakti/penugasan yang diatur dalam Kepmenkes RI Nomor: 1207.A/MENKES/SK/VIII/2000 tentang pendayagunaan dokter spesialis dan dokter gigi spesialis, Kontrak Ikatan Dinas, permintaan RSUD, persepsi dokter spesialis/dokter residen tentang fasilitas (financial dan nonfinansial) dan fasilitas kerja serta komitmen pimpinan Pemda tentang fasilitas dan biaya pendidikan dokter spesialis di Provinsi Sulawesi Selatan . sedangkan tujuan khusus adalah :
a. Menganalisis penempatan dokter spesialis berdasarkan lama masa bakti/penugasan sesuai dengan Kepmenkes RI Nomor: 1207.A/MEKES/SK/VIII/2000 tentang pendayagunaan dokter spesialis dan dokter gigi spesialis di Provinsi. Sulawesi Selatan?
b. Menganalis penempatan dokter spesialis berdasarkan Kontrak Ikatan Dinas dari Depkes atau Pemda di Propinsi Sulawesi Selatan?
c. Menganalisis persepsi dokter spesialis/dokter residen terhadap fasilitas dan fasilitas kerja di Provinsi Sulawesi Selatan?
d. Menganalisis penempatan dokter spesialis berdasarkan permintaan RSUD yaitu kebutuhan masyarakat persyaratan rumah sakit kelas C.
e. Menganalisis komitmen pimpinan Pemda Kab/Kota tentang Fasilitas dan bantuan biaya pendidikan dokter spesialis di Provinsi Sulawesi Selatan?

TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum Sumber Daya Manusia
Menurut Nawawi (2001:37), Pengertian sumber daya manusia dalam arti mikro di lingkungan sebuah organisasi/perusahaan dapat dilihat dari tiga sudut:
1. SDM adalah orang yang bekerja dan berfungsi sebagai asset organisasi/perusahaan yang dapat dihitung jumlahnya (kuantitatif).
2. SDM adalah potensi yang menjadi motor penggerak organisasi/perusahaan. Setiap SDM berbeda-beda potensinya maka kontribusinya dalam bekerja untuk menkongkritkan rencana operasional bisnis menjadi kegiatan bisnis tidak sama satu dengan lainnya.
Tinjauan Umum Manajemen SDM
Menurut Saydam (2000:9), pengertian manajemen SDM itu tiada lain adalah semua kegiatan yang dilakukan mulai dari kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian sampai pengendalian semua nilai yang menjadi kekuatan manusia, untuk dimanfaatkan bagi kemaslahatan hidup manusia itu sendiri.
Menurut Hasibuan (2003:10),
“Manajemen SDM adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat”.
Menurut Simamora (1999:3),
“Manajemen SDM adalah pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa dan pengelolaan individu anggota organisasi atau kelompok pekerja”.

Sistem Penempatan SDM
Menurut Saydam (2000 : 152), pada hakikatnya apa yang menjadi sasaran proses penempatan SDM ini adalah untuk :
a. Mengisi lowongan pekerjaan yang tersedia dalam perusahaan
b. Agar orang yang ditempatkan itu tidak terombang-ambing lagi dalam menunggu tempat dan apa yang akan dikerjakan.
c. Menempatkan orang yang tepat pada posisi dan tempat yang tepat.
d. Agar perusahaan dapat bertindak efisien dengan memanfaatkan SDM yang berhasil direkrut.
A. Tinjauan Umum Rumah Sakit
Rumah sakit menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 983/Menkes/SK/XI/1992 tentang pedoman organisasi rumah sakit umum dalam rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan bersifat dasar, spesialistik dan sub-spesialistik, sedangkan klasifikasinya didasarkan pada perbedaan tingkatan menurut kemampuan pelayanan kesehatan yang dapat disediakan yaitu rumah sakit kelas A, kelas B (pendidikan dan non-pendidikan), kelas C dan kelas D.
Rumah Sakit Umum (RSU) pemerintah dibedakan atas:
a. RSU Tipe A, yaitu apabila pada rumah sakit tersebut tersedia pelayanan medis spesialistik dan sub spesialis yang luas.
b. RSU Tipe B, yaitu apabila dalam pelayanan rumah sakit tersebut terdapat pelayanan spesialistik luas dan sub spesialistik terbatas.
c. RSU Tipe C, yaitu apabila dalam pelayanan rumah sakit tersebut terdapat pelayanan spesialistik minimal untuk 4 vak besar, yaitu penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, dan obstetri ginekologi.
d. RSU Tipe D, yaitu apabila dalam pelayanan rumah sakit tersebut hanya bersifat dasar dan dokter umum.
Tinjauan Umum Tenaga Kesehatan
Menurut peraturan pemerintah No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan, yang termasuk tenaga kesehatan ialah:
1. Tenaga medis : dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi.
2. Tenaga keperawatan : perawat dan bidan.
3. Tenaga kefarmasian : Apoteker, analisis farmasi, asisten apoteker
4. Tenaga kesehatan masyarakat : epidemiologi kesehatan, entomology kesehatan, mikrobiologi kesehatan, penyuluh kesehatan, administrasi kesehatan, sanitarian.
5. Tenaga gizi : nutrisionis dan dietasen.
6. Tenaga keterapian fisik, fisioterapis, radioterafis, teknisi gizi dan elektromedis, analisis kesehatan, teknisi transfusi dan perekam medis.
7. Tenaga keteknisian medis.
Kompensasi / Fasilitas
Menurut Martoyo (2000:126), Kompensasi adalah pengaturan keseluruhan balas jasa bagi “employers” maupun “employees” baik yang langsung berupa uang (financial) maupun yang tidak langsung berupa uang (nonfinansial).
Pemberian insentif dimaksudkan untuk memberikan upah yang berbeda bagi karyawan tetapi bukan berdasarkan pada evaluasi jabatan meskipun upah dasarnya sama. Dimaksudkan untuk dapat meningkatkan produktifitas karyawan dan mempertahankan karyawan untuk dapat tetap berada dalam organisasi.
Persepsi
Persepsi adalah inti komunikasi, sedangkan penafsiran (interprestasi) adalah inti persepsi, yang identik dengan penyandian-balik (decoding) dalam proses komunikasi. Hal ini jelas tampak pada definisi John R. Wenburg dan William W. Wilmot : “Persepsi dapat didefinisikan sebagai cara organisme memberi makna”. Rudolph F. Verderber dalam buku Ilmu Komunikasi (Mulyana:2004),
Komitmen
Neale dan Noertheraft (1990), komitmen terhadap organisasi merupakan itikad yang kuat dari seseorang untuk terlibat dalam organisasi, biasanya meliputi: (1) keyakinan yang sungguh-sungguh akan tujuan dan nilai-nilai organisasi, (2) kesediaan untuk berusaha atau berbuat sesuatu demi organisasi, (3) keinginan yang kuat untuk terus menjadi suatu organisasi.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat eksploratif dengan menggunakan data kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilakukan di tiga RSUD yaitu: Andi Makkasau Pare-Pare, Pattallassang Takalar dan Andi Djemma Luwu Utara, dengan pertimbangan bahwa RSUD Andi Makkasau Pare-Pare merupakan pusat rujukan, RSUD Pattallassang Takalar merupakan RSUD yang jaraknya dekat dari ibu kota provinsi dan RSUD Andi Djemma Luwu Utara merupakan RSUD yang jaraknya jauh dari ibu kota provinsi. Waktu penelitian selama 2 bulan yaitu pada bulan Mei – Juli 2006.
Informan dalam penelitian adalah Dokter spesialis empat dasar yaitu spesialis anak (Sp.A), spesialis bedah umum (Sp.B), spesialis obsteri ginekologi (Sp.OG), dan spesialis penyakit dalam (Sp.PD) yang bertugas di RSUD Andi Makkasau Pare-pare, RSUD Pattallassang Takalar dan RSUD Andi Djemma Luwu Utara.
Pengumpulan data kuantitatif diperoleh dari data sekunder, dan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam. Untuk menjamin validasi data yang telah diperoleh, dilakukan Triangulasi Metode dan Sumber.

HASIL PENELITIAN
Lama masa bakti/penugasan dokter spesialis empat dasar di RSUD Andi Makkassau Parepere, RSUD Pattallassang Takalar dan RSUD Andi Djemma Luwu Utara telah dilaksanakan berdasarkan Kepmenkes.
Lama masa bakti/penugasan yang diatur dalam Kepmenkes RI 1207.A/MENKES/SK/VIII/2000 adalah lama masa pengabdian profesi dokter spesialis dalam rangka menjalankan tugas yang diberikan pemerintah pada suatu sarana pelayanan kesehatan tertentu. Penempatan dokter spesialis merupakan penetapan pelaksanaan tugas dokter spesialis pada suatu daerah yang diberikan oleh pemerintah. Regulasi kesehatan adalah salah satu esensi dari reformasi di bidang kesehatan yang diformulasikan dalam bentuk penerapan kebijakan tersebut. Implementasi sebuah kebijakan akan sesuai dengan tujuan pembuatan kebijakan tersebut jika diterapkan dan dipatuhi serta disosialisasikan dengan baik.
Secara normatif adanya Kepmenkes yang mengatur penempatan dokter spesialis bertujuan agar distribusi dokter spesialis merata sampai di daerah terpencil dan daerah dalam kondisi tertentu. Namun kenyataannya ternyata masih banyak RSUD di Sulawesi Selatan bahkan di Indonesia yang masih kekurangan dokter spesialis. Hal ini disebabkan oleh enggannyan dokter spesialis bekerja di daerah (Subdin Bina Pelayanan Kesehatan dan Farmasi, 2006).
Dokter spesialis mempunyai tanggung jawab moral dengan mendahulukan pengabdian di dalam menjalankan tugasnya dan mematuhi Kepmenkes yang mengatur tentang penempatannya, distribusi dokter spesialis akan merata dan masyarakat Indonesia akan menikmati pelayanan dokter spesialis.
Dokter spesialis empat dasar telah menjalin kontrak ikatan dinas dengan Depkes, sedangkan dokter residen belum menjalin kontrak ikatan dinas baik dengan Depkes maupun Pemda. Di Kabupaten Luwu Utara terdapat 1 orang dokter yang mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari Pemda.
Dokter dalam suatu rumah sakit tetap merupakan inti utama dalam pelayanan kesehatan. Dokter spesialis merupakan dokter yang mengkhususkan diri dalam suatu bidang ilmu kedokteran tertentu. Seorang dokter harus menjalani pendidikan dokter spesialis, untuk dapat menjadi dokter spesialis yang merupakan program pendidikan lanjutan dari program dokter (Wikipedia Indonesia Ensiklopedia, 2005). Mahalnya biaya yang harus dikeluarkan saat mengikuti program pendidikan dokter spesialis merupakan salah satu penyebab dokter spesialis bermohon untuk mendapatkan bantuan pendidikan dari pemerintah dalam hal ini Depkes atau pemerintah daerah.
Lemahnya perhatian pemerintah daerah dalam memberikan biaya pendidikan bagi dokter yang akan melanjutkan pendidikan spesialis, disebabkan oleh tingkat kemampuan pemerintah daerah yang masih terbatas.
Persepsi dokter spesialis tentang fasilitas menganggap bahwa fasilitas harus ada tetapi bukan hal utama yang menjadi pertimbangan memilih bekerja di RSUD. Pemberian fasilitas merupakan faktor penting yang dapat menarik, memelihara dan mempertahankan karyawan untuk tetap setia melakukan tugasnya dalam suatu organisasi. Fasilitas dapat meningkatkan ataupun menurunkan prestasi kerja, kepuasan kerja maupun motivasi karyawan (Martoyo, 2003).
Kabupaten Takalar dan Luwu Utara telah memberikan fasilitas berupa insentif, perumahan dan biaya kongres. Sedangkan kota pare-pare tidak ada insentif kecuali perumahan dan biaya kongres. Salah satu persyaratan administrasi kebutuhan tenaga RSUD kelas C adalah adanya perumahan bagi dokter spesialis empat dasar dengan ukuran tipe 70.
Untuk mencegah dokter spesialis memilih atau pindah ke daerah lain yang menjanjikan fasilitas yang lebih baik, Pemda seharusnya bersaing dengan daerah lain menyediakan fasilitas.
Persepsi dokter spesialis empat dasar terhadap fasilitas kerja adalah merupakan hal utama yang menjadi pertimbangan dalam peningkatan pelayanan kesehatan dan sudah sesuai standar minimal bahkan beberapa jenis alat sesuai dengan standar optimal.
Agar dapat mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal, pemerintah harus meningkatkan perhatian terhadap fasilitas kerja RSUD. oleh sebab itu peralatan yang lengkap dapat memberikan kesempatan bagi dokter spesialis untuk dapat melaksanakan fungsi sesuai dengan kemampuan dan kompetensi yang di dapatkan di institusi pendidikan.
Keberadaan dokter spesialis empat dasar telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memenuhi persyaratan RSUD kelas C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sangat membutuhkan pelayana dokter spesialis yang akan membantu dalam upaya penyembuhan penyakit tertentu yang diderita oleh masyarakat. Sepuluh penyakit terbesar yang ada di masyarakat adalah merupakan penyakit yang perlu diupayakan mendapatkan spesialisasi jika dibutuhkan.
Rumah sakit menurut Kepmenkes RI No. 983/Menkes/SK/XI/1992 tentang pedoman rumah sakit umum. Rumah sakit memberikan pelayanan kesehatan bersifat dasar spesialistik dan sub spesialistik, sedangkan klasifikasinya didasarkan padap perbedaan tingkatan menurut kemampuan pelayanan kesehatan yang dapat disediakan yaitu rumah sakit kelas A, B, C, dan D. Hasil analisis di peroleh informasi bahwa di RSUD Andi Makkasau kota pare-pare, Pattallassang Kabupaten Takalar dan Andi Djemma Kabupaten Luwu Utara, tenaga dokter spesialis empat dasar lengkap sesuai dengan persyaratan RSUD kelas C yaitu ketenagaan minimal mempunyai dokter spesialis empat dasar, selain tingkat pelayanan, keadaan fisik bangunan, dan peralatan.
Komitmen Pimpinan Pemda kota Parepare dalam memberikan fasilitas masih kurang, belum ada insentif dan bahkan masih ada yang belum mendapatkan perumahan, sedangkan komitmen Pemda kabupaten Takalar dan Luwu Utara adalah berada pada tingkat komitmen kuat karena telah memberikan insentif yang diatur dalam keputusan Bupati, selain mendapatkan perumahan dan biaya kongres.
Komitmen Pimpinan Pemda kota Parepare dan Takalar terhadap bantuan biaya pendidikan dokter spesialis berada pada tingkat komitmen lemah karena belum memberikan biaya pendidikan dokter spesialis, sedangkan komitmen Pimpinan Pemda Kabupaten Luwu Utara berada pada tingkat komitmen sedang karena telah memberikan bantuan biaya pendidikan kepada satu orang dokter yang sedang pendidikan spesialis THT.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan

1. Penempatan dokter spesialis berdasarkan lama masa bakti/penugasan yang diatur dalam Kepmenkes Nomor 1207. A/KEPMENKES/SK/VIII/2000 tentang pendayagunaan dokter spesialis dan dokter gigi spesialis, telah dilaksanakan oleh dokter spesialis empat dasar di RSUD Andi Makkasau Pare-pare, RSUD Pattallassang Takalar dan RSUD Andi Djemma Luwu Utara berdasarkan Kepmenkes Nomor 1207. A/MENKES/SK/VIII/2000.
2. Penempatan dokter spesialis berdasarkan konrak ikatan dinas dari Depkes dan Pemda, diperoleh data bahwa dokter spesialis empat dasar di RSUD Andi Makkasau Pare-Pare, RSUD Pattallassang Takalar dan RSUD Andi Djemma Luwu Utara telah menjalin kontrak ikatan Dinas dengan Depkes. Dokter residen tidak menjalin ikatan kontrak baik dengan Depkes maupun Pemda.
3. Persepsi dokter spesialis/dokter residen terhadap fasilitas dan fasilitas kerja adalah Fasilitas harus ada dan menjadi salah satu pertimbangan bagi dokter spesialis memilih bekerja di RSUD. Persepsi dokter spesialis terhadap fasilitas kerja adalah fasilitas kerja merupakan hal utama yang menjadi pertimbangan memilih bekerja di RSUD.
4. Penempatan dokter spesialis berdasarkan permintaan RSUD adalah sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memenuhi persyaratan RSUD kelas C.
5. Komitmen pimpinan Pemda Kota Pare-pare tentang fasilitas berada pada tingkat komitmen sedang, Kabupaten Takalar dan Luwu Utara berada pada tingkat komitmen kuat. Sedangkan komitmen terhadap bantuan biaya pendidikan spsialis Kota Pare-pare dan Kabupaten Takalar berada pada tingkat komitmen lemah dan Kabupaten Luwu Utara berada pada tingkat komitmen sedang.

Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan disarankan beberapa hal sebagai berikut:
1. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan hendaknya menfasilitasi pengadaan fasilitas kerja dokter spesialis serta meningkatkan advokasi kepada Pemda dan DPRD kota/kabupaten, dalam menfasilitasi dokter spesialis memperoleh insentif yang rasional.
2. Pemda Kota Parepare, Kabupaten Takalar dan Kabupaten Luwu Utara hendaknya melengkapi fasilitas kerja dokter spesialis agar semua peralatan kerja sesuai dengan standar minimal bahkan sesuai dengan standar optimal.
3. Pemda Kota Pare-Pare, Kabupaten Takalar dan Kabupaten Luwu Utara hendaknya meningkatkan komitmen dalam menyediakan fasilitas baik finansial maupun non finansial kepada dokter spesialis.

Sumber : Tesis Mardiana Wahab, MARS UNHAS

About these ads
  1. Mansyah (KETUA IDI PASER)
    Juli 26, 2010 pukul 12:58 pm | #1

    Ya…ada kekeliruan dalam hal ini, saya melihat dari dua sisi, Dokter Spesialis yang PNS dan ingin mangajukan usul sekolah PPDS dan Minta Bea Siswa Dari PEMDA, harus punya komitmen bahwa akan kembali setelah selesai sekolah, dan pemdapun dalam hal ini jika menginginkan ybs bersangkuta kembali, harus berimbang “SAYA MEMBERIK DAN ANDA MEMBERI” jangan deal dibelakang…..Khusus semua harus berdasarkan KOMITMEN

  2. KendraSmiles
    Juni 26, 2011 pukul 11:20 pm | #2

    Germany has a
    abundance culinary
    news
    unrestricted of a issue
    of unsurpassed and
    fascinating foods.
    While German restaurants can be urgently to
    crumble by means of in the Amalgamated
    States, most Americans
    demand tried German

    http://wasistausfluss.wordpress.com/

    was ist ausfluss
    Was ist Ausfluss
    Ausfluss

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: